Jumat, 28 September 2012

3 Kesalahan Perempuan Ketika Bercinta


3 Kesalahan Perempuan Ketika Bercinta
Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312

Setiap pasangan pasti memerlukan penghangat dalam hubungan seks. Namun ternyata menurut ahli seks Dr. Jane Greer, ada beberapa kesalahan besar yang biasa dilakukan wanita yang bisa membuat pria tak lagi bergairah untuk bercinta.
Kesalahan 1: Pakaian yang terlalu nyaman. Kita semua pastinya ingin mengenakan pakaian yang nyaman seperti daster atau piyama saat tidur. Namun, ternyata pakaian yang nyaman ini kadang-kadang Anda tampak lusuh, sehingga pasangan Anda tak bergairah untuk bercinta. Jika menginginkan "penghangat" hubungan Anda, cobalah untuk menggodanya dengan menggunakan tank top dan celana pendek, atau lingerie yang feminin dan seksi.

Kesalahan 2: Selalu menunggu. Jangan menjadi pasangan yang pasif. Anda tak harus selalu menunggunya untuk mengajak Anda bercinta. Sesekali berinisiatiflah untuk mengajaknya bercinta, apalagi ketika Anda memang menginginkannya. Naiklah ke tempat tidur, dan ajak pasangan Anda untuk bercinta dengan Anda. Pria akan sangat senang ketika pasangannya berani mengungkapkan keinginan seperti ini.

Kesalahan 3: Mengkritik. Hal ini juga harus dihindari. Tak ada satu hal pun yang bisa membunuh gairah pasangan Anda selain mengkritik dan mengajarinya tentang apa yang tak becus dilakukannya. Di sisi lain, gairahnya akan semakin memuncak jika Anda membiarkannya mengetahui apa yang bisa dilakukannya untuk menyenangkan Anda, dan apa saja yang bisa dilakukannya untuk merangsang Anda.


Anda ingin penghasilan tambahan jutaan
rupiah per bln hanya dg modal HP? Sgr
dptkan RAHASIA BISNIS VIA SMS,
 info ketik: DAFTAR#NAMA
LENGKAP#
SMS312#NO HP ANDA sms dikirim ke 085740811247
Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312
Infonya bisa anda hubungi 081391194071

Alasan Bercinta yang Menimbulkan Masalah

Alasan Bercinta yang Menimbulkan Masalah

Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312

Apa alasan Anda berhubungan seks dengan pasangan? Jawabannya bisa beragam,seperti sejumlah alasan berikut ini:
* Berhubungan seks sebagai bentuk pengakuan, ingin merasa dicintai, dan mengatasi perasaan tak nyaman atas hubungan.
* Hubungan seks sebagai bukti cinta.
* Bercinta merupakan bentuk penguasaan atas pasangan yang memiliki perasaan terhadap Anda.
* Menghilangkan stres.
* Membantu Anda untuk cepat tertidur.
* Untuk memenuhi kebutuhan akan kekuasaan dan kontrol terhadap orang lain.
* Mengatasi perasaan kesepian, dan perasaan sedih lainnya.
* Untuk memeroleh kebutuhan akan afeksi yang Anda inginkan.
* Ekspresi cinta melalui aktivitas fisik bersama orang yang Anda cintai.

Semua alasan di atas, kecuali yang terakhir (sebagai ekspresi cinta), merupakan sejumlah alasan bercinta yang melukai diri sendiri. Cirinya, Anda dan pasangan berhubungan seks untuk memeroleh cinta, menghindari perasaan tak nyaman atau rasa sakit, dan untuk mendapatkan rasa aman. Alasan bercinta yang seperti ini dapat menimbulkan masalah bagi hubungan. Seseorang yang melukai dirinya, yang menginginkan kontrol dan kuasa atas orang lain, memiliki kecenderungan melakukan kekerasan terhadap anak-anak dan orang dewasa.

Seseorang yang menjadikan hubungan seks sebagai bentuk validasi atas perasaannya, dirinya, rasa cintanya, membuat pasangannya merasa dikontrol, dimanfaatkan, bahkan merasa diintimidasi.

Menurut Dr Margaret Paul, konselor, terapis, edukator seks dan pernikahan, juga coach hubungan berpasangan, tak sedikit pasangan yang melakukan hubungan seks bukan didorong oleh hasrat seksual, tetapi lebih kepada mengharapkan cinta pasangan guna mempertahankan hubungan. Alasan seperti ini justru membahayakan hubungan. Yang kemudian terjadi adalah, entah Anda atau dia, akan merasa dikhianati. "Menggunakan seks sebagai bentuk kontrol atas diri orang lain merupakan bentuk pengkhianatan," tambah Paul.

Ia melanjutkan, banyak juga orang yang percaya bahwa orang lain bertanggung jawab atas perasaannya, termasuk dalam kehidupan seks. Jika Anda meyakini bahwa adalah tugas pasangan Anda untuk memenuhi kebutuhan seksual Anda, ini petanda hubungan berada dalam masalah.

Seks pada akhirnya muncul sebagai kewajiban bukan karena rasa cinta. Ketika salah satu pihak merasa telah memenuhi kewajibannya, hubungan berpasangan perlahan akan rusak. Karena tak ada seorang pun yang mau dimanfaatkan, apalagi secara seksual. Jadi, jangan pernah melakukan hubungan seks karena sekadar menjalani kewajiban atau rutinitas belaka, apalagi meminta pasangan memenuhi kebutuhan seks Anda berlandaskan kewajiban.

Hubungan seks menjadi salah kaprah ketika tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang akan perlindungan dan perhatian. Jika pasangan membutuhkan perhatian, berikan ia perhatian, bukan dengan melakukan hubungan seks.

Seks memang dapat menghilangkan stres, kesepian, namun sifatnya sangat sementara. Namun, bukan berarti Anda dan pasangan melakukan hubungan seks untuk menghilangkan stres atau perasaan tak nyaman lainnya. Jika Anda menjadi rileks setelah berhubungan seks, itu tak jadi soal, namun bukan berarti hubungan seks dilakukan untuk mengatasi stres.

Seksualitas yang sehat berasal dari perasaan cinta dan intimasi yang muncul antara dua orang. Dua orang yang saling mencintai, takkan melakukan hubungan seks, ketika salah satunya merasa tak ingin melakukannya atau sedang tak merasa nyaman bercinta. Pasangan yang bertanggung jawab atasa perasaannya masing-masing, melakukan hubungan seks, untuk menikmati kesenangan dan kenikmatan, sebagai bagian dari bentuk ekspresi cintanya terhadap pasangan. Inilah alasan yang sehat untuk bercinta. Apakah Anda dan pasangan memiliki alasan yang sehat untuk bercinta?


Anda ingin penghasilan tambahan jutaan
rupiah per bln hanya dg modal HP? Sgr
dptkan RAHASIA BISNIS VIA SMS,
 info ketik: DAFTAR#NAMA
LENGKAP#
SMS312#NO HP ANDA sms dikirim ke 085740811247
Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312
Infonya bisa anda hubungi 081391194071

PEREMPUAN LEBIH SUKA OMONG JOROK


PEREMPUAN LEBIH SUKA OMONG JOROK

Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312

Anda mungkin sering mendengar kalimat, "Yang ada di pikiran pria cuma seks". Hal ini didukung oleh survei yang dilakukan Kinsey Institute, Indiana University, yang pernah menyimpulkan bahwa 37 persen pria di dunia ini memikirkan seks setiap 30 menit. Namun, penelitian terbaru membuktikan: secara seksual wanita ternyata lebih adventurous daripada pria.
Survei yang digelar oleh situs Good in Bed mengungkapkan, perempuan tidak hanya lebih gemar bereksperimen saat bercinta, tetapi juga jauh lebih suka ngomong jorok dan berbagi fantasi daripada laki-laki. Kebanyakan responden yang terjaring survei (semuanya sudah punya pasangan) juga mengatakan bahwa mereka menikmati seks dengan lampu menyala, mengenakan lingerie yang seksi, bercinta di tempat-tempat yang berbeda di rumah, dan memakai cairan lubrikasi.

Hasil survei ini jelas mengejutkan bagi banyak orang.

"Selama ini perempuan telah dipandang dalam masyarakat sebagai sosok pemalu yang membatasi ekspresi seksual dari pasangan mereka," ujar Kristen Mark MS, direktur survei untuk situs tersebut. "Menurut saya, survei ini menunjukkan bahwa dalam sampel para perempuan, hal itu tidak benar."

Kegemaran untuk bereksperimen secara seksual kerap dikaitkan dengan kepuasan seksual dari pria maupun wanita. Semakin terbuka dan mau mencoba-coba, hubungan pasangan akan bertahan lebih lama. Dalam survei juga terungkap bahwa 50 persen responden menyatakan suka menonton film porno bersama pasangan.

Sebelumnya, Good in Bed juga pernah menggelar survei yang menunjukkan bahwa kaum perempuan lebih mudah bosan dalam hubungan daripada laki-laki, meskipun mereka lebih puas secara seksual. Seperempat dari responden (lebih dari separuhnya telah menikah) mengatakan bahwa kebosanan dalam hubungan bisa menyebabkan perselingkuhan. Oleh karenanya, hampir 60 persen responden berhasrat untuk mencoba sesuatu yang baru untuk menghidupkan kembali kehidupan seks mereka.

Belum lama ini, situs Good in Bed juga mengungkapkan penemuan lain yang menyatakan bahwa makin banyak pria yang berpura-pura orgasme. Di lain pihak, semakin matang usia wanita, semakin sering mereka mencapai klimaks dengan kualitas yang lebih baik. Baik pria maupun wanita sepakat bahwa orgasme yang terjadi bersamaan jauh lebih baik, meskipun hal ini tidak sering terjadi.

Anda ingin penghasilan tambahan jutaan
rupiah per bln hanya dg modal HP? Sgr
dptkan RAHASIA BISNIS VIA SMS, 
info ketik: DAFTAR#NAMA
LENGKAP#SMS312#NO HP ANDA sms dikirim ke 085740811247
Info lengkap buka www.smsbisnis.net/?id=sms312
Infonya bisa anda hubungi 081391194071




Jumat, 14 September 2012

Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi



Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi

Kognitif dan Musik
Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.

Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) 
penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri itu.
INFO LENGKAP BUKA  http://www.uangbalik.in/?id=13685870 
Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (spatial), arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.
INFO LENGKAP BUKA  http://www.uangbalik.in/?id=13685870 
Gallahue, (1998) mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.
Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.

Selain itu juga, Gordon Shaw (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika, logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik. Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan matematika menguat.

Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks. Didukung pula oleh Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi, ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika.

Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam perasaannya.

Implementasi dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya yaitu di SMP, dan begitu juga dengan pendidikan kesenian di SMP kan mempengaruhi keberhasilan studi pada masa di SMA. Dan kesenian di SMA, mau tidak mau menjadii factor penentu dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik.

Musik dan Kecerdasan Emosi
Sternberg dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.

Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesali di kemudian hari.

Kepekaan akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh.

Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Seperti apa yang kita cita-citakan dapat diraih dan mengisyaratkan adanya suatu perjalanan yang harus ditempuh dari suatu posisi di mana kita berada ke titik pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu.

Kemampuan membina hubungan bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu remaja untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan perkembangan terhadap emosional mereka.

Remaja, merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya. Remaja ingin dicintai, ingin diakui, dan dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapatkan tempat dalam kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsur-unsur yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi remaja.

Kecerdasan emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi anak dapat berkembang secara lebih optimal.
Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal “Emotional Intelligences (EQ)”, memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).

Menurut Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik dapat berperan dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat berpengaruh ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak.

Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh hemisfer otak kanan. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.

Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran (blending antara otak kanan dan kiri itu).

Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.

Campbell 2001 dalam bukunya efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman, Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati.

Musik digambarkan sebagai salah satu “bentuk murni” ekspresi emosi. Musik mengandung berbagai contour, spacing, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia.

Musik memberikan rangsangan terhadap jalinan antara neuron, sehingga neuron yang bertautan akan meningkatkan kemampuan matematika dan emosi.
(2) Mus
ik merangsang pikiran.
(3) Musik memperbaiki konsentrasi dan ingatan.

(4) Musik membuat siswa lebih pintar.
(5) Musik meningkatkan aspek kognitif.
(6) Musik membangun kecerdasan emosional.
(7) Siswa yang mendapat pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif dan mampu mengambil keputusan dan mempunyai empati.
(8) Dengan pendidikan musik, anak memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanan, artinya terdapat keseimbangan antara aspek kognitif dan aspek emosi.